Blog

Dear, Ayah…

WhatsApp Image 2017-06-26 at 22.55.32
Suasana H-1 Idul Fitri 2017, Ba’da Ashar

Halo Ayah, apa kabar?

InshaAllah semoga Allah selalu merahmatimu dan memudahkan urusan akhiratmu 🙂

Ayah, ini adalah tahun ketigamu, atau empat idul fitri tanpa kehadiranmu (secara fisik) di sekitar kami. Tahukan engkau tahun pertama adalah tahun terberat untuk kami, karena engkau (menurut kami) pergi secara tiba-tiba dan terlalu cepat.

Butuh waktu yang tidak sebentar untuk kami bisa memulihkan dan menerjemahkan apa yang kami rasa dan pikirkan, tentunya kami berusaha untuk saling menguatkan, walaupun kami sama-sama tahu bahwa di episode sendiri kami masih sering mencuri tangis untuk menyampaikan rindu.

Ibu diam-diam menangis di kamar atau terhenti dengan nafas berat ketika bercerita tentang Ayah. Adik bersikap tegar di depan kami, melakukan hal-hal yang sebelumnya tak pernah ia lakukan, bahkan tanpa diminta. Tapi suatu hari aku mendengar ia mengulang pesan yang Ayah sampaikan sebelum kepergian Ayah “Fik, Ibu diantar ya kalau mau kemana-mana…”. Sedangkan aku beberapa kali menolak kesedihan dan mengabaikannya dengan alasan semakin aku memikirkan akan semakin sulit melupakan. Tapi ternyata “strategi”ku ini tidak berhasil, butiran rindu dan kesedihan mengkristal dan semakin berat terasa. Setelah banyak mencari aku tahu bahwa dengan mengakui kesedihan dan tanpa menolaknya akan lebih memudahkanku menerima realita.

Butuh waktu yang tidak sebentar sampai kami menyadari, bahwa kematian adalah suatu kepastian yang Allah tetapkan. Akan terjadi kepada siapapun, tak terkecuali Ayah, atau kami yang menunggu giliran.
Sebenarnya kalimat itu sungguh sudah kami dengar jauh sebelumnya, bahkan kami mempelajari itu di bangku sekolah, tapi memasukkannya ke dalam hati dan memaknainya ternyata tidak semudah yang kami kira.

Tahun berganti, hitungan hari yang terlewati bertambah.

Cinta dan sayang kami kepada Ayah masih tetap sama, atau bahkan dimaknai lebih. Kami belajar bagaimana mencintai Ayah lebih dari sebelumnya, kami juga belajar bagaimana mengubah kesedihan menjadi suatu hal yang kami terima, dan sungguh kami ingin berdamai dengan rasa yang memberatkan, karena kami tidak ingin mengenangmu lewat tangis yang terus-menerus, kami ingin mengenangmu dengan senyum simpul bahwa kami bahagia dan berterima kasih pernah menjadi bagian dari hidupmu.

1 tahun berlalu…

Kami menghadapi masa-masa berat tanpa kehadiranmu, saat itu adalah tahun kami menyesuaikan situasi yang tak lagi sama tanpa hadirmu, yah.
Kami banyak bersitegang untuk hal-hal kecil dan remeh yang sebenarnya tidak perlu, kadang berpikir akan lebih baik jika ada engkau sebagai penengah atau pengambil keputusan. Tapi yah, kami sama-sama menyadari bahwa kami berproses dan kami ingin memberi kesempatan satu sama lain, untuk memposisikan diri atau evaluasi. Kami sama-sama menunggu. Tidak mudah, tapi kami tidak menyerah.

Kami juga sama-sama memohon kepada Allah untuk bersabar dengan proses yang kami jalani, kami meminta supaya Allah tidak meninggalkan kami selambat apapun kami mengerti.

2 tahun berlalu,

Kami mulai menemukan ritme dan alur masing-masing. Ada hal-hal yang kami pelajari lebih satu sama lain, kami sama-sama belajar untuk tidak melewati batas. Kami belajar untuk lebih mengenal dan mengelola ego, kami menyadari bahwa kami saling memiliki.
Kami menyadari sekalipun kami banyak tidak sependapat, tapi rasa cinta kami lebih besar dan maaf kami lebih luas daripada rasa benci yang kami rasakan, karena kami sama-sama berpikir bahwa kehilangan ego akan lebih baik daripada kehilangan salah satu diantara kami. Dan itu tidak sebanding, sama sekali tidak bisa dibandingkan.

Memasuki tahun ketiga…

Perlahan namun pasti kami telah benar-benar menerima situasi ini. Kami menceritakanmu tidak lagi dengan air mata, kami memanggil namamu tidak lagi dengan suara berat dan parau. Kami menceritakanmu dengan bahagia, mengulang lagi kisah bersamamu dengan canda dan tawa, betapa kami berterima kasih bahwa engkau menjadi Ayah kami, menjadi bagian penting di hidup kami.
Yes still, beberapa kali berpikir bagaimana pendapatmu tentang ini, itu jika engkau masih di sini. Tapi… kami berhenti di sana 🙂

Yah, Ayah tidak perlu khawatir, kami di sini selalu membicarakanmu bersama Allah. Di setiap selesai sholat atau di keheningan masing-masing. Kami berjanji kelak kami yang akan bersaksi di hadapan Allah bahwa engkau telah memperlakukan kami dengan teramat baik. Bahwa engkau adalah idola kami yang ingin kami teruskan perjuangan dan cita-cita yang pernah engkau sampaikan. Dan kami terus-menerus berdoa agar Allah menjadikan kami anak yang soleh dan solihah, karena dengan cara seperti itu doa-doa kami akan sampai padamu.

———————————————————————-

Ayah, kami merindukanmu seperti embun di pagi hari. Tapi kami tahu bahwa Allah telah memberikanmu segala sesuatu yang terbaik, termasuk bagaimana caramu meninggalkan kami dan dunia. Jika kami masih bersedih, mungkin kami yang belum mengerti maksud semua ini.
Ayah, sampai kapanpun engkau adalah episode favorit kami.
Sampai bertemu lagi di episode selanjutnya, yah… di keadaan dan tempat yang lebih dirahmati Allah. Aaamiin.

We love you, Ayah 🙂

WhatsApp Image 2017-06-26 at 22.55.32 (1).jpeg

Hi, there!

Sudah lama banget nih ga nulis… ini blog juga sebenarnya sudah akhir tahun 2016 dibuat, tapi setelah itu dibiarkan begitu saja, sampai akhirnya sekarang diintip lagi, dan mencoba menulis (kembali).

~~walaupun sebenarnya halaman blog belum diapa-apain, masih default setting tapi gapapa kali ya :D~~

Btw blog yang dulu sudah ga diurus karena alasan terlalu banyak terpapar kejadian transisi, mau diapus sayang, diterusin ga mau hhh~~ maunya apeee 😉

———————————-

Kenapa tiba-tiba hari ini pingin nulis?

Sesungguhnya menulis sudah jadi kebiasaan dari jaman SD, tepatnya mulai kelas 5. Kalo dulu nulisnya di diary. Setelah itu jadi kegiatan harian yang kalau dihitung-hitung, sampai sekitaran tahun 2011, sudah ada 11 buku diary. Nah setelah tahun 2011 jadi jaraaaang banget nulis di diary dan lama kelamaan berhenti.

Isinya macem-macem, tergantung suasana dan cuaca. Bisa cuma “Dear, Diary… hari ini mendung bla bla bla…” atau malah bikin cerpen….. (iya…. nulis cerpen di buku diary T.T) walaupun kebanyakan cerpennya ga selesai ditulis.

Kalau sekarang masih punya diary yang masih menyisakan banyak lembaran-lembaran kosong… cuma itu tadi, sudah jarang banget menulis. Kayanya dua tahun terakhir ini masih dengan diary yang sama…..

diary (2).jpeg

Ada yang pernah berkata, tapi lupa siapa, kira-kira kaya gini…

orang yang sering menulis di diary adalah orang yang kesepian dan sukar mengungkapkan keinginan dan perasaan secara langsung

Well, ada benernya juga sih, kalau menurut saya loh ya 🙂 eh btw bisa juga berbeda di orang lain.

Kalau diinget-inget lagi, coba mundur ke belakang, di tahun-tahun dimana diary adalah makanan sehari-hari, kurang lebih saya memang tipikal orang yang sulit mengungkapkan apapun, entah itu opini, keinginan, perasaan, dan merasa lebih aman ketika menulis. Jatuhnya jadi ga asertif sama sekali… beraninya di tulisan, pas ketemu orangnya langsung gabisa ngapa-ngapain.

Saya masih inget, sekitar tahun 2010, seseorang bertanya kepada saya “sesulit itu kah Pit bercerita?“, dan setelah itu jadi perenungan tersendiri buat saya… iya ya… kenapa sulit sekali bercerita, lebih dari itu, kenapa sulit sekali mempercayai orang lain untuk sekedar mendengar cerita.

*kalo dibahas mah panjang… banget… lain kali aja yes 🙂

Singkat cerita, pada 2011 terjadi perubahan yang cukup drastis di hidup saya. Ketika lanjut S2 dan saya harus ngekos, yah walaupun cuma geser ke kota sebelah (di Surabaya doang), tapi hal itu bener-bener banyak merubah saya. Karena hidup sendiri, menyadari bahwa saya ga mungkin bisa sendirian *elaaah~~ dan harus mencari cara untuk tetap survive, mau ga mau cari alternatif lain dalam bersosialisasi *apadeh.

…yang tadinya pendiem (?) jadi lebih rame, yang tadinya tertutup dan ga gampang percaya orang, jadi sedikit membuka diri, serta kasih kesempatan ke diri sendiri untuk berproses lihat dari banyak sisi.

Alhamdulillahnya, Allah kasih saya orang-orang terdekat yang luar biasa. Jadi selama dua tahun saya berasa rawat jalan, merasa di terapi 😜 efek dari kedekatan kami merubah saya menjadi seorang yang saya rasa lebih positif dari sebelum-sebelumnya. Kaya gimana sih, lebih ngerasa plong dan gampang merasa bahagia 😎 *menurut ngana?

Hidup itu berproses kan ya… 🙂 dan saya bersyukur banget ketemu semacam kakak-kakak Genggess yang ngajarin saya lebih terbuka, terutama kepada diri sendiri. Dari situlah, yang awalnya saya nulis di diary semua perasaan dan apapun yang ada di hati-pikiran, setelah tahun itu saya lebih milih untuk ketemu orang, menghubungi orang terdekat dan berbicara langsung.

Bukan berarti nulis di diary ga baik loh ya, karena dua-duanya jadi media yang sama-sama bantu buat pengekspresian diri. Ini cuma masalah rasa dan mana yang lebih sesuai sama keadaan diri sendiri.

Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan terjadi, bahwa saya memilih terbuka dan bercerita semua hal ke orang lain. Sesuatu yang dulu tidak pernah saya lakukan *kemanee ajee Pit 😅 gitu deh…

Sampe sekarang pun akhirnya lebih milih ketemu dan ngobrol sama orang lain, sisi positifnya langsung dapat feedback dan advice… ada kualitas interaksi yang langsung terasa faedahnya (?), sisi negatifnya, kemampuan nulis jadi berkurang hehehe…

Setiap saat kita dihadapkan pilihan-pilihan dan setiap pilihan ada konsekuensi tersediri. Tinggal ditimbang aja mana yang lebih sesuai… 😉

Eh ini ngomongin apasih sebenernya, kok jadi banyak bahas diary yang nyebutnya diulang-ulang 😂

Lalu kenapa ngeblog?

Ngeblog sebenernya sudah dari 2010an sih, cuma baru sekarang di wordpress (dulu milih blogspot, man!) 😂 tapi baru sekarang kepingin bikin blog dengan konten yang ga bercandaan (lah ini apa?) 

Balik lagi di blog, seperti yang semua orang tahu blog bisa dapat manfaat minimal dua, pertama nulis… nih buat kaya saya yang kemampuan menulis sudah terjun bebas… bisa dipanasin lagi, dan kedua bisa langsung dapet masukan dari pemirsa *yakali ada yang baca?

Hwhwhwhwhw 😂😂😂

Yaudah deh gitu aja.